egypt part 1 - trip to the land of pharaoh

Akhirnya, bercerita juga saya tentang perjalanan ke Mesir tahun lalu.

Rasanya saya ingin loncat tinggi lanjut dengan tiger sprong ketika bos kantor mengkonfirm bahwa kami akan outing ke Mesir. Wow! Mesir! Pyramid! Pharaoh! Gurun pasir! Benua afrika! I’m coming!

Totalnya, ada sekitar 100-an orang yang berangkat, dan kami terbagi dalam 2 rombongan. Waktu keberangkatan rombongan 1 dan 2 terpaut satu hari. Saya termasuk dalam rombongan 1 yang berangkat lebih dulu.

Seperti kata pepatah, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Berhubung kantor akan tutup beberapa hari untuk outing, maka deadline semua pekerjaan dimajukan sehingga  kami bisa pergi dengan tenang. Konsekuensinya adalah 2 minggu sebelum keberangkatan adalah minggu-minggu neraka. Lembur dan lembur dan lembur agar semua pekerjaan selesai, dan ngga ada tuh yang telepon-telepon pada saat kita di Mesir.

Happiness takes effort. Catet.

Akhirnya hari keberangkatan yang ditunggu-tunggu datang juga, 18 November 2010. Kami semua berangkat dari kantor pukul 8 malam dengan menggunakan bus carteran. Maskapai yang digunakan adalah Emirates, dan di situ saya baru tahu bahwa tidak ada direct flight ke Cairo, sehingga kami harus singgah ke Dubai dulu. Jadwal lepas landas ke Dubai jam 00.15 dan akan mendarat pukul 05.30 waktu setempat (atau sama dengan 08.30 waktu Jakarta, karena Dubai 3 jam lebih lambat).

Kami makan malam terlebih dahulu di lounge, sebelum akhirnya boarding.

Ada untungnya juga saya terlahir sebagai orang yang pelor, jadi begitu pesawat lepas landas, saya langsung terlelap, dan hanya terbangun karena ditepuk perlahan oleh pramugara yang mengantarkan sarapan.

 Tak lama kemudian, kami mendarat di Dubai, dan transit selama 3 jam.

Waktu tersebut saya gunakan untuk berkeliling ke airport. Wohoho! Dubai international airport ini besar sekali, jadi jangan sampai tersasar terlalu jauh dari boarding gate, karena nanti bisa megap-megap lari menuju ke sana. Dan kalau saya perhatikan,  di sini kayaknya ada semua orang dari berbagai negara, yah ngga mengherankan if this place is a melting pot, mengingat Dubai adalah salah satu terminal transit utama.

Dubai memang airport berkualitas hits deh, karena fasilitasnya yang lengkap. Kursi panjang di mana penumpang bisa tidur berderet  panjang  dekat boarding gate. Cafe, coffee shop, resto, toko elektronik, serta duty free bertebaran di dalam airport. Fasilitas kamar mandinya sangat bersih, dan mereka juga punya shower room untuk penumpang yang keblinger karena penat dan ingin mandi.

Img_0056_medium

Img_0074_medium
Img_0086_medium

Pukul 08.55, saya sudah duduk manis  di dalam pesawat, siap melanjutkan perjalanan menuju Cairo. Kali ini jarak Dubai - Cairo akan ditempuh dalam waktu sekitar 2.5 jam. Sepanjang perjalanan, saya melihat ke luar jendela, and couldnt find any green. It’s all desert my oh my!

Img_0091_medium
Img_0095_medium

Ternyata, perjalanan memakan waktu lebih lama, kami agak kesulitan mendarat karena arus lalu lintas udara yang penuh. Sehingga pesawat pun baru mendarat Cairo International Airport pukul 11.50 (atau 16.50 waktu Jakarta).

(inside Cairo international airport yang sederhana) 

Img_8372_medium

Di luar, matahari bersinar terik, namun disertai semilir angin. Thank god tidak panas sumpek dan lembab.

Tour leader kami sudah menunggu di airport dan dengan sigap menggiring kami ke bus. The first agenda was to have a lunch in a booked resto.

Sepanjang mata memandang, memang benar-benar negara ini based-nya adalah gurun. Ngga banyak pohon hijau, dan debu di mana-mana. Dan bisa lihat kalau Cairo bukanlah kota metropolitan. Ngga ada tuh gedung pencakar langit yang glamor, billboard LED, mobil model terkini, dan penduduknya yang menenteng smart phone ke manapun. This is a totally down to earth city, despite the glorious past they had.  Sederhana.

Img_0117_medium
Img_8384_medium

Kami makan siang di Abu Zeid Fish Boat, and honestly, I didnt have good memory in there, because the food was pathetically tasteless. Ngok. Not a good start at all.

Thankfully, kekecewaan atas makanan pun terobati dengan kunjungan kami berikutnya ke Mesjid Al Azhar yang baru, dan berbelanja di pasar Khan El Khalili (Indonesia banget yah, belanja meyuyu).

Rata-rata di Mesir, untuk masuk ke mesjid kita diwajibkan pakai kerudung dan lepas alas kaki. Bagi yang ngga bawa, mereka memberikan pinjaman kerudung secara gratis.

Begitu masuk ke dalam, saya termehek-mehek melihat Mesjid Al Azhar. Arsitekturnya gokil bagus banget deh, bikin merasa terharu, dan sukses membuat berkaca-kaca, karena suddenly saya ngerasa kecil banget ngga ada apa-apanya di hadapan Tuhan. Aww tiati melancholy attacks!  Beberapa teman langsung mengambil wudhu dan salah Ashar di sana. Too bad I was in my period at that moment. 

(di luar mesjid Al Azhar)

Img_8447_medium

(saya mejeng)

Img_8425_medium

 (segerombolan anak kecil yang memanggil-manggil saya dengan "hello how are you miss? tapi begitu saya ajak ngobrol gak bisa jawab, cuma senyum malu-malu kucing. Sini deh difoto aja yah)

Img_8446_medium

Selesai dengan Al Azhar, kami pun menyusuri Khan El Khalili. Letaknya dekat sekali, hanya menyeberang jalan dari Al Azhar.

(tuh  El Khalili ada di seberang jalan)

Img_0138_medium

Pasar ini adalah tujuan utama para turis untuk berbelanja oleh-oleh. Terdiri dari satu jalan besar dengan gang-gang kecil di kiri dan kanan yang menggoda untuk ditelusuri. Di sinilah experience pertama saya berbicara dengan orang lokal. Mereka berbicara dengan volume besar dan nada suara yang cukup ngotot.  Sekilas kalau ada 2 orang bicara, terdengar seperti sedang bersitegang, padahal sih ngobrol biasa aja. Jadi kalau tawar-menawar kesannya kayak bapak kos lagi maki-maki nagih uang sewa.

Muka asia saya pun dengan cepat mereka tebak dengan “Indonesian? Malaysian?... Ah  you're a moslem!  Come inside sister, special discount for you” . Ya alloh agresif deh nek.

Seperti pasar tradisional pada umumnya, di sini kita harus pintar-pintar menawar, karena para pedagang di sini suka agak ngetok harga. Nawarnya harus si raja tega 50% less, siap-siap juga kasih muka tembok, dan attitude jual mahal. Sok-sok melengos sedikit boleh supaya dipanggil lagi sama penjual (errr walaupun saya sempet dongkol, udah melengos eh gak dipanggil lagi, kamfret. Tapi ngga mau balik lagi dong. Gengsi).

 Banyak banget pernak pernik asli mesir di sini, ya baju, kalung, tshirt, gelang, hiasan pyramid, pretty patterned cloth, pashmina, scarf, sepatu kulit, topi abu monyetnya aladin, bahkan alat musik tradisional pun ada!

Di gang-gang kecil dalamnya juga ada beberapa cafe tempat minum teh dan shisha yang mengundang untuk dikunjungi. Sayang karena waktunya terbatas, saya ngga sempat main ke gang-gang itu. Tapi saya berjanji, ku kan kembali lagi El Khalili!

 

Img_8469_medium

Img_8461_medium

(ini bapak penjual postcard yang mukanya berkarakter banget. I bought 10 poscards from him, and send them to folks back in Jakarta)

Img_8482_medium

(minuman dingin bikin ngiler)

Img_8467_medium
Img_8484_medium

Anyway, namanya juga turis Indonesia, kalau udah belanja bisa lupa segalanya. Yang harusnya kumpul lagi jam setengah 7 jadi agak molor karena masih keenakan shoppang shopping. Di meeting spot kita, si tour leader udah heboh angkat bendera dan mengabsen anggota rombongan.

Puas dengan El Khalili, kami melanjutkan perjalanan makan malam dan check in ke hotel. Kedua lokasi resto dan hotel berada di daerah Giza, yang agak jauh dari Cairo. Sekitar 30 menit by car kalau ngga macet, dan mesti nyeberang sungai Nil dulu (aseli jembatannya panjang). Tapi oh ternyata nasib baik belum berpihak ke rombongan kami, karena ternyata dinnernya di restoran yang sama seperti lunch tadi. The same frickin' resto, beda lokasi doang. Ya elah yang bener aje. Untung saya bawa teri dan abon untuk tambahan lauk biar ada rasanya.

Pukul 9 malam kami pun bergerak menuju hotel. Rombongan udah mulai cranky karena makan malam yang hwarkadah dan badan yang mulai kecapekan.  Lokasi hotel sengaja dipilih di daerah Giza karena letaknya yang dekat dengan pyramid, hanya sekitar 2.5 km  sahaja J.  Dalam perjalanan menuju hotel, kami sempat melewati pyramid, dan layaknya orang norak yang normal, kami semua berdiri-diri berusaha melihat si pyramid dan ngga berhenti ngomong wow gila ya, gokil, gede banget.

Tidak lama kemudian, sampailah kami di hotel Pyramids Park Resort. Dulu namanya adalah Intercontinental, tapi terus udah ngga under Intercontinental group lagi. Lihat bangunan dan interiornya tuh terasa seperti terbawa ke tahun 80an, kayak nonton film Dynasti gitu. Kamarnya pun juga 80s pisan, namun thankfully proper dan bersih. Begitu sampai  di kamar tanpa ba bi bu lagi saya langsung mandi, gosok counterpain karena jompo, dan sukses tewas dengan sempurna.

Walaupun badan capek, namun saya tertidur dengan hati gembira ria, karena besok saya akan mengunjungi pyramid. Hoorah!

(To be continued)

the egyptian

people i met. 

little girls that keep saying "hi, how are you miss?" - al azhar mosque, cairo

Img_8446_medium

mr. postcard seller - el khalili market, cairo

Img_8482_medium

a family - citadel of saladin, cairo

Img_8626_medium

a man taking wudhu - sultan hassan mosque complex, cairo

Img_8808_medium

a souvenir seller - mary girgis, cairo

Img_8879_large

an old man at the small resto near the dessert - al bahariya 

Img_9228_medium

romario (the driver) and khalid (the english speaking guide), my companion during the white dessert trip - al bahariya

Img_9001_medium

bunch of old men having an afternoon conversation - alexandria

Img_9387_medium

the food seller - alexandria

Img_9398_medium

another food seller - alexandria

Img_9415_medium

an old lady - abu abbas al mursi mosque, alexandria

Img_9494_medium

a pretty baby - the giza pyramid, cairo

Img_9558_medium